Arti Horas

Horas adalah kata salam orang Batak yang berasal dari daerah Sumatra Utara. Khususnya “Tapanuli”. Selain kata HORAS salam khas yang lain, yaitu MENJUAH-JUAH dari daerah Karo, YAHOBU dari daerah Nias. Namun kata Horas lebih umum digunakan dan lebih populer. Sulit menemukan kata yang tepat dalam Bahasa Indonesia, karena kata Horas mempunyai makna yang sangat luas, diantaranya berarti: apa khabar, wa’lafiat, selamat perkenalan, selamat pagi/siang/malam, selamat datang/jalan tinggal dan lain-lain.

Kata Horas dalam tradisi Batak yang memiliki keunikan tersendiri, tercipta dari falsafah hidup suku Batak, yakni “Dalihan Na Tolu” (DNT). Secara harfiah DNT berarti “Tungku Nan Tiga” atau tungku yang ditopang oleh tiga kaki. Falsafah ini menunjukkan keterikatan hubungan internal dari ketiga posisi kekerabatan orang Batak dalam bermasyarakat yang mendoakan setiap orang agar senantiasa “Horas-Horas”: Somba marhula-hula, elek mar Boru, Manat mar Dongan Tubu. Berdasarkan DNT, kekerabatan orang Batak dibagi dalam tiga bagian yaitu Hula-Hula(kerabat marga pihak isteri), Dongan Tubu (marga kita, dari garis ayah, kakek dan anak laki), Boru (kerabat perempuan dari ayah, saudara perempuan kita beserta marga suaminya).

Somba mar-hula hula artinya senantiasa tunduk dan hormat kepada hula-hula agar horas-horas sedangkan Elek mar-Boru senantiasa mengasihi agar mendapat berkat yang melimpah dari Tuhan. Manat mar-Dongan Tubu artinya agar berhati-hati menjaga ikatan persaudaraan supaya terhindar dari malapetaka atau kutukan dari saudara semarga.

Setiap orang Batak adalah Raja. Raja disini tidak ada kaitannya dengan kerajaan, hanya secara umum dipakai dalam acara adat dan kehidupan sehari-hari orang Batak. Dalam ikatan DNT yang lazim digambarkan dengan bentuk segitiga sama sisi, masing-masing disebut juga: Rajani Hula-Hula, Raja ni Boru, dan Raja ni Dongan Tubu. Laki-laki Batak didalam bermasyarakat pasti pernah menduduki ketiga posisi DNT ini, menjadi hula-hula, boru, atau dongan tubu tergantung pada situasi dan kondisinya saat itu.

Adat Batak tidak memandang pangkat, harta, atau status seseorang karena berpegang kepada Dalihan Na Tolu. Bisa saja terjadi seorang Jenderal dalam acara adat harus menyingsingkan lengan bajunya dan wajib bekerja melayani seluruh keluarga dari pihak isteri yang kebetulan berpangkat Sersan. Situasi seperti ini mungkin saja membuat pak Sersan merasa rikuh, namun itulah realita dalam kehidupan kekerabatan Batak. Dari fenomena ini dapat ditarik kesimpulan bahwa orang Batak umumnya tidak neko-neko, siap bekerja sama dan mau mengalah dan bersikap kesatria.

Adalah anggapan keliru yang mengatakan bahwa orang Batak wataknya kasar, susah sulit bergaul, dst. Pembawaan fisik yang kelihatan keras, galak, suara keras, dll, itu sebenarnya terbentuk karena alam Tapanuli yang juga mem pengaruhi pola hidup orang Batak. Tapanuli tanahnya tandus berbatu-batu, berada pada ketinggian yang sangat jauh diatas permukaan laut sehingga mengharuskan mereka bekerja keras untuk menghasilkan makanan. Tiupan angin yang sangat kencang serta jarak antara rumah-rumah yang berjauhan menuntut mereka untuk berteriak agar suaranya dapat didengar oleh lawan bicaranya. Watak yang terlihat itu hanyalah penampilan diluar saja, sebenarnya hati nurani mereka baik dan lembut.

Satu hal yang tidak terpisahkan dari kehidupan orang Tapanuli adalah Silsilah (tarombo), yang diwariskan oleh setiap ayah terutama kepada anak laki-lakinya. Konon, semua tarombo ditulis pada kulit kayu, kulit binatang atau kain putih yang akan diwariskan secara turun temurun dari generasi ke generasi melalui anak laki-laki. Dari tarombo ini nama leluhur pada generasi yang ke 20 pun dapat ditelusuri dengan mudah termasuk saudara-saudaranya turun temurun.

HORAS!!!

Paian Simbolon – Badak-Samarinda, East Kaltim, Indonesia